Sunday, August 23, 2009

TINGGINYA BUDI , INDAHNYA BAHASA .....

Secara semula jadi kita sukakan ketinggian budi dan keindahan bahasa . Ciri-cirinya ialah pengungkapannya tidak membingitkan telinga serta tidak mengguris hati . Kita boleh akur walaupun tugasnya berat . Kalau sebaliknya , kita boleh jadi menolak mentah-mentah walaupun tugasannya amat ringan akibat sakit telinga dan terguris hati .

Pendidikan budi dan bahasa perlu dilakukan semasa usia rebung . Kalau diperhatikan telatah anak-anak kecil di rumah atau di sekolah , akan didapati ia berpadanan dengan suasana pembesaran . Kalau dia selalu dibentak , ungkapannya akan selalu membentak . Kalau ia selalu dipujuk , bahasanya merupakan pujukan . Adalah penting bagi ibubapa memahami hal ini supaya anak-anak dididik mengikut acuan yang betul .

Bahasa berlapik adalah salah satu elemennya . Penggunaannya tidak menonjolkan kita dalam label materialistik , memandang pangkat dan darjat dan sebagainya . Contohnya "Siapa Kassim Selamat tu , lawyer , doktor ? " Ungkapan ini jelas menunjukkan penuturnya memandang darjat . Maknanya sama dengan ungkapan "Kassim Selamat bekerja di mana ? Siapa keluarganya ? " Ungkapan kedua lebih manis bahasanya walaupun makna kedua-duanya sama .

Dalam hubungan informal , telinga individu boleh panas kalau ditanya "Berapa gaji sebulan ? Apa pangkat awak ? Anak awak dapat berapa A ? " Ungkapan ini boleh dilapik dengan ungkapan lain yang tidak memanaskan telinga .

Kita kena belajar menggunakan bahasa berlapik kalau ketinggian budi dan keindahan bahasa hendak diterap dalam pendidikan . Malang sekali pada zaman ini ungkapan yang selalu diberi ialah "Apa ada pada budi ? Apa pentingnya bahasa ? Yang penting poket dan perut berisi ". Memang ia tidak penting kalau kita tidak kisah jika anak kita tiada budi bahasanya kepada kita ketika kita sedang uzur bongkok tiga nanti . Ketika itu sudah terlambat untuk menyesali apa yang telah kita lakukan ........

3 comments:

Kembara Kelana said...

betul apa yang kau tulis tu mah, itulah dipanggil budi bahasa. ramai yang begitu mah...aku memandang ianya bermula dari asuhan di rumah, kalau dari rumah sejak kecik tidak diasuh, pentingnya budi bahasa ni, maka terbawa lah "kurang ajar" tu sampai ke tua...

captain viking said...

thats right, courtesy begins at home..but our kids sometimes get influenced by external factors, something that we dont see coming. we thought we have raised them the best we could, yet Allah is testing u.

Citera Alam said...

Sop,
Kita cuba buat terbaik untuk mereka tapi perlu konsisten ; selebihnya barulah diserah dan kita kenalah jadi modelnya .

captain viking,
I think the best way is try to be closed with them so that we can overcome the external factors .